Sejarah dan Profil Desa Mengwitani
<h2 style="margin: 0cm; text-align: center;"><strong>Profil Desa Mengwitani</strong></h2> <p><strong><img height="100px" src="https://desamengwitani.badungkab.go.id/storage/desamengwitani/image/taman-rama-20260130085736-D5LvO.jpeg" weigth="100px" /></strong></p> <p style="margin: 0cm; text-align: justify;">Desa Mengwitani sebagai desa dinas merupakan bagian terbawah dari pemerintahan republik, yaitu berada di wilayah Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali dengan memiliki 2 desa adat yaitu Desa Adat Mengwitani dan Desa Adat Beringkit.</p> <p style="margin: 0cm; text-align: justify;">Luas wilayah Desa Mengwitani adalah 4.39 km2 secara administratif Desa Mengwitani terdiri dari 2 Desa Adat, 19 Banjar Adat dan 13 Banjar Dinas, dengan batasan-batasan wilayah di sebelah Utara berbatasan dengan Desa Mengwi dan desa Gulingan, Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Kapal, sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Kekeran dan Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Tabanan.</p> <p style="margin: 0cm; text-align: justify;">Desa Mengwitani terdiri dari 19 banjar adat dengan 13 banjar dinas dan 2 desa adat yang terdiri dari, sebagai berikut :<br /> I.  Desa Adat Beringkit :<br />     1. Banjar Pengadangan<br />     2. Banjar Selat<br />     3. Banjar Menak<br />     4. Banjar Kelod Kauh<br /> II. Desa Adat Mengwitani :<br />     5. Banjar Panca Warga<br />     6. Banjar Dinas Pupuan :<br />         a. Banjar Panca Jaya<br />         b. Banjar Panca Yasa<br />         c. Banjar Panca Dharma<br />     7. Banjar Dinas Mengwitani<br />         a. Banjar Dukuh Gong<br />         b. Banjar Loda Pura<br />         c. Banjar Delod Peken<br />     8. Banjar Dajan Peken<br />     9. Banjar Dinas Lebah Gunung<br />         a. Banjar Gunung Sari<br />         b. Banjar Taman Sari<br />         c. Banjar Batur Sari<br />     10. Banjar Jumpayah<br />     11. Banjar Sila Dharma<br />     12. Banjar Wira Dharma<br />     13. Banjar Culag – Calig</p> <p style="margin: 0cm; text-align: center;"> </p> <h2 style="margin: 0cm; text-align: center;"><strong>Sejarah Desa Mengwitani</strong></h2> <p><img height="100px" src="https://desamengwitani.badungkab.go.id/storage/desamengwitani/image/mengwitani-20260406080725-1c4hs.png" weigth="100px" /></p> <p><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:150%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:150%"><span bookman="" old="" style="">Menyusun sejarah Desa Mengwitani  memang sulit sekali, karena bahan – bahan untuk menyusun suatu sejarah boleh dibilang tidak ada sama sekali di Mengwitani ini, diantaranya; prasasti, tulisan – tulisan dan data – data autentik lainnya yang bisa di pertanggung jawabkan kebenarannya. Oleh karena itu kami tidak menggunakan istilah “Sejarah“ tetapi terbatas sampai dengan istilah “Asal – Usul” Desa Mengwitani inipun terbatas cuma dari segi nama Mengwitani itu saja,tidak dari segi – segi lainnya. Demikian pula bahan – bahan penyusunannya cuma berdasarkan “Cerita” dari mulut ke mulut belaka, jadi jelas sifatnya kurang ilmiah.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="margin: 0cm; text-align: justify;"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:150%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:150%"><span bookman="" old="" style="">Konon dijaman dahulu, semasih pulau Bali ini penuh dengan hutan  belantara, tersebutlah suatu daerah dibagaian tengah Pulau Bali yang kelebatan semak belantaranya melebihi daerah – daerah lainnya, dengan suatu puncaknya yang menjulang tinggi yang disebut “<i>Puncak Pangelengan</i>” terletak dibagaian utara daerah tersebut, penghuninya terdiri dari para Manusia yang masih primitif, liar dan buas hampir mendekati sifat – sifat raksasa, sehingga sedikitpun tidak ada rasa gotong royong atau persaudaraan diantara mereka, pertengkaran – pertengkaran, perkelahian, pembunuhan serta peperangan selalu terjadi hampir setiap saat, sehingga bangkai atau mayat – mayat selalu bergelimpangan dimana – mana tiada habis – habisnya, menimbulkan bau busuk yang menyebar luas kemana – mana (bahasa Bali : bau busuk yang menyengat = mangweng).</span></span></span></span></span></span></p> <p style="margin: 0cm; text-align: justify;"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:150%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:150%"><span bookman="" old="" style="">Karena daerah itu memang subur, maka banyaklah orang – orang luar yang ingin mendiami Daerah itu. Beberapa saat kemudian datanglah rombongan orang – orang dari sebelah barat yang peradabannya sudah agak tinggi ke Daerah tersebut dan bermukim disana. Dengan sendirinya perang besar tak dapat dihindari lagi. Untuk pertahanan, pendatang – pendatang baru itu membuat suatu benteng berbentuk atau dengan teknik seperti Gua “Tetani” yaitu semacam gua yang didalamnya penuh lorong – lorong dan kamar – kamar yang lengkap untuk  penyimpanan makanan tempat tidur dan lain – lainnya, serta jebakan – jebakan untuk membinasahkan musuh Tetani ( Bhs. Bali ) berarti rayap. Lama – kelamaan  kalahlah orang – orang biadab yang merupakan bekas penghuni daerah itu dan musnah. Bangkai bergelempangan tiada terhitung banyaknya, menimbulkan bau yang “<i>Mangweng</i>” mulailah penghuni baru yang merupakan nenek moyang penduduk Desa Mengwitani sekarang, berbenah diri dengan peradaban barunya. Untuk mengenang peristiwa tersebut, mulai saat itu diberi nama “ <i>Mangweng Tetani </i>” kemudian menjadi <i>“Mangu Tetani”</i> dan akhirnya menjadi <b>“MENGWITANI”</b> sampai kini. Puncak Pangelenagnpun disebut juga Punca Mangu.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="margin: 0cm; text-align: justify;"><img height="100px" src="https://desamengwitani.badungkab.go.id/storage/desamengwitani/image/sejarah-desa-20260129144751-HNt9a.jpg" weigth="100px" /></p>
05 Apr 2026